NgeTEH Duyu

Wedi Ombo, Pantai di Ujung Jogja
time traveller Sun, 04 Mar 2007 08:30:00 WIB Sejak bencana gempa hampir setahun lalu, Jogja giat membangun dan kembali menata segala potensinya, termasuk dunia pariwisatanya. Kali ini, salah satu pantai Jogjakarta yang jarang terdengar, mendapat giliran untuk dipromosikan, agar Anda mempunyai lebih banyak pilihan untuk berwisata pantai di kota tua ini.

Ya, bukan cuma Parangtritis. Jogjakarta punya banyak pantai. Cobalah lihat lebih ke timur. Pasir putih, ombak besar khas pantai selatan, ikan segar, ikan matang, bahkan ikan-ikan hias pun tersedia. Membentang mulai dari Baron, Kukup, Drini, Krakal, Sundak, Siung, sampai Wedi Ombo.

Untuk mencapai Pantai Baron dari pusat kota Jogjakarta memakan waktu sekitar 1,5 jam berkendaraan motor, sedangkan untuk sampai di Pantai Wedi Ombo masih harus menambah lebih kurang 33 km lagi. Jangan takut merasa lelah, sebab bagi Anda yang belum pernah melintas di daerah Pegunungan Sewu (begitu istilah para geologis untuk Gunung Kidul), bukalah mata lebar-lebar dan Anda akan terkesima, atau mungkin malah sedikit merenung.

Kesan & Kenangan
Menaiki Bukit Pathuk melewati daerah Piyungan saat cerah, pemandangan Candi Prambanan yang terlihat kecil di kejauhan dengan dilatarbelakangi `si kembar’ Gunung Merapi-Merbabu, memang bisa menjadi kenangan yang sangat indah. Lalu buaian naik-turun dengan kelokan-kelokan tajam di sepanjang jalan juga mampu menaikkan gairah para pencinta olahraga adrenalin. Tapi itu baru permulaan.

Coba saja tengok lebih teliti lagi, Anda mungkin (sangat mungkin) menemukan rentengan-rentengan ratusan atau malah ribuan belalang yang siap bakar, goreng, bahkan siap santap di pinggir jalan raga. Jijik? Geli? Tidak manusiawi? Atau tidak what? Mungkin perasaan-perasaan itu akan muncul dalam pikiran Anda. Ironisnya, menurut para ahli, belalang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sehingga baik untuk dikonsumsi manusia.

Selain itu, cerita ketangguhan masyarakat Gunung Kidul juga wajib dikisahkan kembali dalam perjalanan ini. Dari media massa kits Bering mendengar bahwa Gunung Kidul kerap dilanda kekeringan dan kekurangan pangan. Hal itu disebabkan oleh struktur tanahnya yang sebagian besar tertutup oleh kapur, sehingga air tidak mampu bertahan lama dan meresap jauh ke dalam bumi.

Maka di sinilah indahnya semangat hidup masyarakat Gunung Kidul. Dengan kondisi yang seperti itu, mereka bertahan clan ‘menyulap’ bukit (baca: gunung) kapur yang tidak bisa ditanami, menjadi hijau dengan lahan pertanian singkong clan palawija, yang hasilnya bisa digunakan untuk bertahan hidup kala musim kemarau, ataupun dengan pohon-pohon jati yang bernilai ekonomi tinggi.

Konon, cara yang mereka gunakan adalah dengan menggali petak-petak bukit-bukit kapur sampai kedalaman 1 m, lalu petak itu diisi dengan tanah yang subur. Entah benar atau tidak, tapi cerita itu paling tidak sudah cukup untuk membuat kita malu kala mengingat etos kerja sebagian besar orang Indonesia.

Bentangan Pasir & Terumbu Karang
Memasuki kawasan Wedi Ombo, jangan berharap akan melihat pintu gerbang mewah seperti di sebuah Tamara Impian yang terkenal di pantai utara Jakarta, atau jalan turns sejajar pantai eksotis yang dipenuhi turfs dari penjuru dunia seperti di Jalan Raya Kuta, Bali. Namun dari tempat parkir kendaraan yang letaknya 100 m dari bibir pantai dengan ketinggian sekitar 30 mdpl itu, kita bisa memandang ke sebuah teluk yang begitu besar, dengan bukit kapur dan tebing-tebing karang yang menjulang tinggi di kanan-kirinya. Tak ada duanya!

Nama Wedi Ombo yang berarti pasir yang luas dalam Bahasa Indonesia, ternyata tidak semuanya benar. Setidaknya jika hal itu dilihat dari struktur pantainya. Memang terdapat hamparan pasir putih sekitar 1 km yang membentang, tetapi ternyata lebar lapisan pasir tersebut hanya berkisar 10 m raja. Kemudian ada hamparan terumbu karang selebar 10 m, barulah ada air taut. Tetapi keunikan inilah yang membuat Pantai Wedi Ombo semakin layak dikunjungi dan menarik untuk dinikmati.

Tak Perlu Menyelam!
Pada saat pasang (sekitar jam 10.00 dan jam 18.00), hamparan terumbu karang tersebut akan tertutup oleh air taut. Dan waktu air Taut surut (sekitar jam 06.00 dan jam 15.00) kita bisa menjelajahi ‘hutan’ terumbu karang dan biota-biota yang hidup di dalamnya dengan aman. Tentu raja tetap hams waspada. Bukan hanya pada ombak, tetapi juga pada bulu babi (sea urchin) dan ikan lepu batu (scorpion fish) yang bersembunyi di batik karang ataupun di dalam pasir.

Mungkin karena hantaman ombak besar yang tak pernah berhenti, terumbu-terumbu karang keras (hard coral) terlihat tak mampu tumbuh sampai besar. Sedangkan jenis karang lunak (soft coral) lebarnya bisa mencapai 0,5 m. Tak begitu jelas apakah ada yang pemah meneliti jenis-jenis karang di sini atau belum, namun melalui pengamatan sepasang mata awam yang amat terbatas ini, setidaknya ada 3 jenis soft coral dan 2 jenis hard coral. Berbagai jenis biota laut ada di sini. Ikan-ikan yang berseliweran, bintang laut yang terkapar, cacing laut yang menggeliat-geliat lemah saling bergantian menyapa mata. Kebanyakan merupakan biota yang terperangkap di air yang menggenang di antara terumbu. Tapi ada juga yang sedang berusaha bergerak di karang, berjuang mencari air.

Ada satu jenis biota laut yang sangat menarik perhatian, yaitu 5 ekor lintah laut (nudibranch). Nudibranch merupakan hewan invertebrata tanpa cangkang yang mempunyai warna-warna indah sehingga menjadi incaran para fotografer bawah air dan di sini, Anda bisa memotretnya tanpa harus menyelam lebih dulu! Menemui kenyataan itu, mungkin akan membuat Anda berpikir, jangan-jangan ikan badut (clown fish) atau ikan lucu bernama Nemo dalam sebuah film animasi bertajuk Finding Nemo itu juga ada di kawasan ini. Nah, silahkan mencarinya. Siapa tahu ketemu…

Asli Indonesia
Menjelang sore, di sisi bukit sebelah barat beberapa kera ekor panjang (macaca fascicularis), yang menurut penduduk sekitar sering merusak tanaman pertanian mereka, berlompatan dari pohon ke pohon. Gonggongan anjing yang menyambut mereka menambah ramai suasana. Entah untuk menambah kesan dramatis situasi saat itu atau memang ingin mempromosikan daerahnya, bapak penjaga parkir menambahi dengan cerita tentang ribuan kalong yang akan melintas di langit saat matahari mulai tergelincir.

Menurutnya, kalong-kalong yang bertubuh besar dengan kepakan sayapnya yang lebar itu tinggal di sebuah pulau karang kecil di sebelah timur Wedi Ombo, yang diberi nama Pulau Gelatik oleh penduduk setempat. Pulau tersebut bisa ditempuh dalam waktu 3 jam berjalan kaki. Jika Anda punya cukup banyak waktu, kunjungi pulau ini untuk membuktikan kebenaran cerita itu.

Setelah lelah, duduk di atas pasir sembari menyeruput es kelapa muda merupakan pilihan yang biasa kita temui di kawasan wisata pantai di Indonesia. Di Wedi Ombo pilihan itu bisa dirubah menjadi bersantai di waning sambil menyeruput teh poci dengan gula batu sebagai pemanisnya. Masih ditambah gorengan singkong, ubi dan pisang yang hangat. Rasanya seperti berada dalam dongengdongeng orang-orang tua zaman dulu. Khas sekali.

Maka bagi Anda yang sudah bosan dengan segala rutinitas hidup yang padat, jenuh dengan segala keramaian dan fasilitas mewah dari sebuah hotel maupun resort di pinggir pantai, lalu mendambakan bersantai di pantai yang masih asri, tenang, asli Indonesia dengan segala kehidupannya, siapkanlah diri Anda untuk berangkat ke pantai di ujung Jogja ini. Selamat menikmati!

Sumber: Majalah Tamasya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.